"Sebaik-baik pemimpin kamu adalah orang yang kamu cintai, mereka pun mencintai kamu. Kamu mendoakan mereka, mereka pun mendokan kamu. Dan seburuk-buruk pemimpin kamu, adalah orang yang kamu benci dan mereka pun membenci kamu. Kamu melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kamu." (HR Muslim)
Sabda Rasulullah SAW tersebut mengajarkan kepada kita semua bagaimana sosok seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya melalui sikap dan perilaku yang ia terapkan di dalam kehidupannya. Di tanah air, melalui jendela media yang kian ramai, kita masih saja disuguhi gambaran para pemimpin kita yang saling bertikai dari kasus Century Gate yang belum kunjung menemui titik terang hingga konflik yang terjadi diantara para petinggi Kepolisian saat ini. Tidak hanya itu, masih segar di ingatan kita mengenai pemberian mobil dinas mewah bermerek Toyota Crown Royal Saloon yang bernilai hingga 1,3 Milyar kepada para Mentri. Ketika dimintai pendaptnya oleh awak media TV mengenai pemberian mobil mewah tersebut, sejumlah mentri nampak menunjukan wajah ceria dan berharap akan meningkatkan kinerjanya. Timbul sebuah pertanyaan apakah harus dengan pemberian mobil semewah itu para mentri di pemerintahan kita menjadi tergerak untuk memberikan yang terbaik kepada rakyatnya?
Ada sebuah kisah inspiratif dari kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, khalifah pada zaman pemerintahan Bani Umayyah, yang dipaparkan oleh Prof.Dr. Didin Saefudin Buchori dalam bukunya Sejarah Politik Islam. Kisah ini sejatinya dapat diresapi oleh para pemimpin kita yang masih saja memikirkan kepentingan pribadi jauh diatas kepentingan rakyat:
Suatu malam, ketika menerima tamunya ia bertanya, "Kedatanganmu kemari untuk urusan pribadi atau Negara?" ketika dijawab urusan pribadi, maka ia meniup lampu yang menyala dirumahnya kemudian mereka berbicara dalam gelap. Tamunya heran dan bertanya, mengapa digelapkan? Jawab Umar, "Lampu ini dibiayai oleh Negara, maka Anda tidak berhak mendapatkan penerangan dari Negara karena urusan Anda bersifat pribadi."
Sungguh Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin Asketis, yaitu seorang pemimpin yang memiliki sikap hidup sederhana, bersahaja, dan jauh dari sikap berfoya-foya merujuk pada yang disebutkan oleh Ali Rif'an pada kolom Hikmah koran harian Republika hari ini (Sabtu, 9 Januari 2010). Sungguh sikap ini yang jarang kita temukan pada pemimpin yang sedang berkuasa saat ini. Mungkin hanya sebagian kecil yang menerapkan kesederhanaan dan selebihnya menjadikan jabatan pemimpin yang ia pegang sebagai ajang untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Seharusnya pemimpin kita itu selalu ingat bahwa jabatan yang ia emban saat ini adalah sebuah beban yang teramat besar karena pada akhirnya nanti akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT di akhirat kelak, seperti yang diceritakan kembali dalam kisah Umar bin Abdul Aziz lainya berikut ini:
Dini hari Umar selalu bangun untuk menunaikan shalat malam. Setelah itu, ia duduk tafakur bermunajat kepada Tuhan hingga subuh. Kelopak matanya tampak sembab karena menangis terus menerus. Istrinya bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, mengapa belakangan ini engkau hamper tidak pernah tidur malam dan selalu menangis terus menerus?" Umar menjawab, "Betul istriku. Sebagai seorang khalifah, aku senantiasa ingat rakyatku yang hidup sengsara. Dan aku yakin Allah pasti akan meminta pertanggungjawabanku. Aku takut kelak tidak bias memberikan alsana di hadapan-Nya."
Besar harapan kepada sang pemimpin di tanah air untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik sehingga mampu memberikan keteladanan bagi rakyat Indonesia tuk terinspirasi dan mencontoh segala amal kebaikan yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Harapan adalah doa, dan doa ini dipanjatkan untuk para sang pemimpin di Indonesia.
-A.sa_(primaretha)




