Festifal Qosidah Jadul
03 Februari 2010

  MESKI jaman sudah modern, bukan berarti yang klasik dilupakan begitu saja. Hal itu benar-benar dibuktikan oleh panitia penyambutan milad pondok pesantren putri selatan. Pasalnya, untuk menyambut acara sakral tersebut, panitia menggelar berbagai lomba. Salah satunya festifal qosidah tahun 80-an.

Tidak seperti hari biasa,  Kamis malam (28/1), Pondok Pesantren Darussalam selatan terlihat ramai. Ada yang mempersiapkan panggung, dekorasi, ada juga yang mempersiapkan konsumsi. Kegiatan tersebut ternyata untuk penyambutan milad pesantren yang sempat tertunda pada tanggal 15 januari kemarin. Acara yang diketuai oleh Halimatus Sa'diyah ini memang sengaja ditunda dikarenakan suasana duka yang menyalimuti bumi darussalam tidak sesuai dengan lomba yang akan diadakan.

Acara tersebut dilaksanakan hanya sekedar memberikan nuansa refles bagi para santri. Acara ini diisi dengan berbagai lomba seperti lomba qosidah tahun 80-an, kelereng estafet, gigit koin, dan kerupuk fentil.

Sebelum perlombaan resmi dimulai, Ibu Ny. Hj. Nurun Nadhiroh membuka acara secara simbolik dengan pemotongan tumpeng sekaligus mauidotul hasanah. Lomba qosidah 80-an dimulai pada malam itu, pesarta utusan asrama terdiri dari 3 grup. Menariknya, lomba ini tidak hanya dinilai dari suaranya saja tapi juga 'tingkat kejadulannya'. Semakin bernuansa klasik, maka semakin banyak skor yang diperoleh. Bukan berhenti di situ saja, menyambut malam yang semakin menantang, panitia pun berinisiatif memutar film perdana KCB 1 dan 2 yang berakhir sampai pukul 3 dini hari.

Menurut Mbak Halimatus Sa'diyyah, lomba ini bertujuan agar generasi muda tidak melupakan seni klasik. Acara ini berakhir pada Hari Jumat bersamaan dengan pengumuman pemenang lomba. (sis/ka)